Langsung ke konten utama

Mepet-Mepet

Bismillaah...

Pada kesempatan kali ini saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya yang... Mmmmm mungkin memalukan atau lucu? Kalau saya ingat itu si rasanya malu dan lucu. Tapi saat itu memang karena ketidaktahuan saya 😁.

Jadi, sekitar 4 tahun yang lalu, saat libur semesteran, saya ikut teman saya ke Jogja. Saya diajak main dan melihat-lihat fakultasnya di kampusnya. Ketika saya shalat duhur di mushala fakultasnya, saya merasa aneh dengan teman satu shaf saya. Ada seorang akhwat di sebelah saya itu setiap bangun dari sujud atau tahiyat awal, kakinya digerak-gerakan, mepet-mepet kaki saya, seperti sedang mencari kaki saya. Ketika kakinya sudah menempel dengan kaki saya, kakinya baru diam. Dalam hati saya heran, "Ini orang lagi ngapain sih aneh banget?". Tapi selesai shalat, saya biasa saja, tidak bertanya-tanya lagi apa maksud akhwat tersebut melakukan itu, karena saya kira akhwat tersebut hanya sedang melakukan hal yang tidak berarti apa-apa dalam shalat.

Setelah kejadian itu dan saya pulang dari Jogja, saya tidak lagi bertemu dengan orang "aneh" seperti akhwat di Jogja itu. Namun suatu saat saya mau shalat dengan kakak-kakak UKI di fakultas saya di kampus saya, ketika akan shalat, kakak UKI yang akan menjadi imam mengingatkan dan memerintahkan makmum-makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf shalatnya. Beliau dan kakak-kakak UKI yang lain saling meluruskan dan merapatkan (menempelkan) kaki mereka dengan kaki teman di sebelahnya. Dan dari situ akhirnya saya ngeh, "Oalaaah ternyata memang itu aturan supaya shaf shalat jadi lurus?" 😂.

Ya, jadi kenapa kaki kita harus mepet-mepet ke kaki teman sebelah kita dalam shaf shalat itu agar shaf shalat kita jadi lurus. Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Iqamah shalat telah dikumandangkan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kami kemudian berkata, 'Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.'" (HR. Bukhari dengan lafazhnya, sedangkan diriwayatkan oleh Imam Muslim secara makna) [HR. Bukhari, no. 719 dan Muslim, no. 434]. Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan, "Dan keadaan salah seorang dari kami menempelkan bahunya dengan bahu rekannya dan kakinya dengan kaki rekannya." (Baca selengkapnya: https://rumaysho.com/17191-meluruskan-dan-merapatkan-shaf.html)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama

Bismillaah... Mungkin ada dari kita yang kadang merasa ujiannya lebih berat atau lebih ringan dari ujian orang lain. Sepertinya tidak begitu ya? Kemampuan makhluk Allah berbeda-beda, ujian yang diberikan Allah pun pasti berbeda-beda sesuai dengan kemampuan makhlukNya, tidak melebihi kemampuan itu, dan Allah Maha Adil. Ujian yang Allah berikan kepada kita sesuai dengan kemampuan kita, dan ujian yang Allah berikan kepada orang lain pun sesuai dengan kemampuan mereka, tidak lebih berat atau lebih ringan, semua sama saja, pas sesuai porsi kemampuan masing-masing.

Saat Bahagia

Bismillaah... Saat kita bahagia, kita bisa memanfaatkan kebahagiaan itu untuk melakuakan kebaikan sebanyak-banyaknya! Karena biasanya saat kita bahagia mau melakukan apa pun dengan hati senang kan? Nah, bersyukurnya juga jangan lupa tapi ya! 😁 "Jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan." (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722)

Harusnya

Bismillaah... Jika aku percaya bahwa rencana Allah selalu yang terbaik untuk hamba-hambaNya, mengapa aku harus kecewa kemudian marah dengan suatu keadaan? Harusnya aku mampu bersabar dan mengambil hikmah atas keadaan itu. Astaghfirullaah.