Bismillaah...
Ingin sedikit bercerita tentang pengalamanku. Ini tentang ujian TOEFL-Like, sebagai salah satu syarat pendadaran-yudisium di universitas tempatku belajar.
Jadi, waktu itu hari Selasa pagi, ada temanku sms ngajak aku daftar ujian TOEFL-Like tersebut. Pada waktu itu, aku belum belajar buat ujian TOEFLnya, persiapan materinya masih kurang. Terus juga, tabungan aku sudah mulai menipis, padahal setiap daftar ujian harus bayar 50 ribu rupiah, kalau gagal harus daftar lagi dan bayar lagi. Aku berpikir, "Daftar nggak ya? Tapi belum belajar, kalau gagal harus daftar lagi, padahal sudah harus berhemat."
Awalnya aku ragu gitu, belajar juga belum tapi mau coba-coba, kan sayang uangnya kalau nggak lulus. Tapi, dalam hati aku, aku itu yakin banget mau nyoba, "OK, aku mau daftar TOEFLnya."
Akhirnya aku putuskan menerima ajakan temanku buat daftar ujian TOEFL itu. Selasa sore, aku dan temanku berangkat daftar. Pertama, kita ke bank dulu buat bayar ujiannya. Terus ke UPT Bahasa buat daftarnya. Petugas di pendaftaran nawarin jadwal ujian, mau ikut yang hari Kamis atau Selasa depan. Waktu itu, aku sempat masih sedikit ragu mau ikut yang hari Kamis, tapi temanku sepertinya sudah mantap mau hari Kamis, jadi ya aku ngikut. Berarti aku cuma punya waktu Selasa malam dan hari Rabu buat belajar. Alhamdulillah, buku materi dan latihan TOEFL structure, yang aku beli waktu ada bazar, selesai aku baca dan pelajari dalam waktu belajar itu.
Hari Kamis waktu ujian pun tiba. Aku dan temanku berangkat ujian. Ini pertama kalinya aku ujian TOEFL, jadi penasaran banget seperti apa 😁. Waktu ujian mau dimulai, semua peserta disuruh masuk, dan dibagiin kartu nomor tempat duduk. Aku dapat nomor 4, dan temanku dapat nomor tempat duduk di tengah, kita jauhan.
Jam 09.00 ujian dimulai. Sesi pertama adalah listening. Masya Allah, itu di rekaman orang ngomongnya cepet banget 😂. Tapi alhamdulillah 50 soal listening dijawab semua. Terus lanjut sesi kedua, structure. Hmmm pilihan jawabannya bikin galau 😂. Di tengah-tengah soal, aku nemu soal yang sama sama latihan soal di buku TOEFL structureku. Alhamdulillah bisa membantu walaupun cuma 1 soal 😄. Alhamdulillah 40 soal structure juga aku kerjain semua. Terakhir sesi ketiga, reading. Wah, bacannya panjang-panjang, jadi harus sabar 😄. Dari 50 soal reading aku nggak jawab semua, tapi alhamdulillah sebagian banyak aku jawab 😄. Dan alhamdulillah, aku bisa mengikuti ujiannya dengan lancar, walaupun ngerjainnya lebih banyak pakai perasaan 😂.
Waktu selesai ujian, aku yakin banget pasti lulus, "Pasti lulus lah. Allah baik kok, pasti dilulusin. Allah tahu aku lagi nggak punya tabungan. Pasti lulus!"
Setelah ujian, eh kakak sepupuku ngasih aku uang 100 ribu rupiah karena aku pernah bantu dia ngetik materi, "Alhamdulillah ada tabungan lagi, semoga bukan buat ngulang ujian TOEFL, aamiin," doaku. Terus hari Senin, hasil ujiannya keluar. Alhamdulillah, beneran aku lulus. Aku seneng banget kan, TOEFL lulus, ada tabungan pula. Tapi habis itu malah printer aku kartridnya rusak 😢. Jadi tabungannya buat beli kartrid baru deh 😂. Alhamdulillah, TOEFLnya lulus, kartridnya baru 😁.
Nah jadi, dari pengalaman aku tadi, adakah pelajaran yang kalian dapat? Kalau ada, komen ya! Terima kasih banyak 😊.
Allah mengikuti prasangka hamba-Nya :')
BalasHapusFarah, terima kasih sudah membaca dan berkomentar 💙
Hapus